Jurnal Humaniora, Sosial Budaya dan Sejarah
https://journal.ypmma.org/index.php/hsbs
<p>Jurnal Humaniora, Sosial Budaya dan Sejarah, e-ISSN: <span class="badge badge-primary"><a href="#" target="_blank" rel="noopener">XXXX-XXXX</a></span> and p-ISSN: <span class="badge badge-primary"><a href="#" target="_blank" rel="noopener">XXXX-XXXX</a></span> is a free and open-access journal published by the Research Division, YPMMA Institute, Indonesia. Journal of Humanities, Socio-Cultural, and History is an academic publication that focuses on multidisciplinary research and analysis in the fields of humanities, socio-culture, and history. This journal aims to broaden our understanding of humans, society, culture, and historical events through high-quality scientific articles. All published article URLs will have a digital object identifier (DOI).</p> <p><a class="btn btn-primary btn-rounded" href="http://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/freq">Publication schedule</a> <a class="btn btn-light btn-rounded" href="https://drive.google.com/file/d/1jkNnGY-ux57wLwFpmGJ5xDTob8E_qMhH/edit?usp=drive_link&ouid=104369064873088396061&rtpof=true&sd=true" target="_blank" rel="noopener">Template (English)</a> <a class="btn btn-dark btn-rounded" href="https://drive.google.com/file/d/1GLgbBLaYAbQ1Yu3Y7esXJ8hqpfBz6VB5/edit?usp=drive_link&ouid=104369064873088396061&rtpof=true&sd=true" target="_blank" rel="noopener">Template (Indonesia)</a> <a class="btn btn-secondary btn-rounded" href="http://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/user/register">Register</a> <a class="btn btn-info btn-rounded" href="http://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/login">Login</a> <a class="btn btn-success btn-rounded" href="http://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/fee">APC</a> <a class="btn btn-danger btn-rounded" href="http://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/indexing">Indexing</a> <a class="btn btn-warning btn-rounded" href="http://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/oai">OAI address</a></p> <p>Interested in becoming our reviewer/editor? Please fill <a class="btn btn-primary btn-rounded" href="http://bit.ly/YPMMA_Reviewer">Reviewer Form</a>.</p> <p><strong>Contact</strong>: <a class="btn text-white" role="button" href="mailto:hsbs@ypmma.org">hsbs@ypmma.org</a> / <a class="btn text-white" role="button" href="mailto:journal@ypmma.org">journal@ypmma.org</a></p>Yayasan Pendidikan Mitra Mandiri Aceh(YPMMA)en-USJurnal Humaniora, Sosial Budaya dan Sejarah0000-0000Degradasi Identitas Kesukuan (Studi Akulturasi Budaya Dalam Adat Perkawinan di Gampong Tampak Ranto Peureulak)
https://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/article/view/80
<p>Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup berbeda. Semakin seseorang mengenal budaya orang itu dan memenuhi ekspetasinya tersebut, kondisi ini terjadi dalam prosesi adat perkawinan campur dimana dua budaya saling bertemu dan beriteraksi. Berdasarkan penelitian maka penelitian ingin mengetahui degradasi identitas kesukuan dalam adat perkawinan suku Jawa dan komunikasi antarbudaya dalam akulturasi adat perkawinan suku Aceh dengan suku Jawa di gampong Tampak. Untuk mengetahui hal tersebut, maka peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif. Untuk memperoleh data menggunakan metode penelitian lapangan seta dengan menelaah sejumlah sumber tertulis diperpustakaan yang ada kaitannya dengan kajian skripsi ini. Sementara tehnik atau pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara secara mendalam dan observasi yang dilakukan terhadap responden di gampong Tampak kecamatan Ranto Peureulak Kabupaten Aceh Timur. Hasil penelitian, terdapat beberapa indikasi bahwa degradasi identitas kesukuan terjadi karena rangsangan atau tarikan dari gagasan-gagasan baru yang datang dari suku Aceh, jati diri budaya suku Jawa berubah oleh pengambilalihan unsur-unsur budaya suku Aceh yang membentuk suatu sosok baru, namun masih membawa serta sebagian warisan budaya lama yang dapat berfungsi sebagai ciri identitas suku Jawa. Akulturasi antara suku Aceh dengan suku Jawa terjadi melalui proses asilmilasi. Asimilasi yang terjadi ditandai dengan terjadinya perubahan budaya pada suku Jawa dengan menerima pola-pola dari suku Aceh, terutama dalam budaya adat perkawinan.</p>Mailisna
Copyright (c) 2025 Jurnal Humaniora, Sosial Budaya dan Sejarah
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/
2025-04-302025-04-30111710.58477/hsbs.v1i1.80Relasi Komunikasi Antar Etnis Aceh dan Etnis Jawa di Gampong Lhok Dalam (Studi Komunikasi Antar Budaya di Gampong Lhok Dalam Peureulak)
https://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/article/view/83
<p>Communication Relations Between Acehnese and Javanese Ethnicity In Gampong Lhok Dalam (Study Of Intercultural Communication In Gampong Lhok Dalam, Ranto Peureulak District)”. This Study Aims To Determine The Relationship In Intercultural Communication Between Ethnic Acehnese And Ethnic Javanese. In Addition, This Study Also Aims to Determine The Process Of Communication Between Ethnic Acehnese And Ethnic Javanese. To Achieve This Goal, This Study Used A Qualitative Descriptive Research Method By Conducting Direct Observations In The Field And Conducting In-Depth Interviews With The Analysis Unit Of Local Residents Who Were Determined Through Purposive Sampling, Namely Deliberately Determining The Unit Of Analysis Using The Criteria Set By The Researcher. The Results Of The Study Show That The Communication Relationship Between Acehnese And Javanese Ethnicity In Gampong Lhok Dalam Is Very Close And Both Languages Are Used In Everyday Language By The Local Community. From The Communication Relationships That Exist In The Unit Of Analysis, Everything Develops And Leads To A Positive Relationship. Then The Analysis Units Also Show That The Factors That Influence The Relationship Between The Two Ethnic Groups Are The Social Environment, Perception, Direct Interaction, And Cultural Elements (Beliefs, Values, Attitudes And Social Institutions).</p>Jauharil MaknuniMailisna
Copyright (c) 2025 Jurnal Humaniora, Sosial Budaya dan Sejarah
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/
2025-04-302025-04-301181310.58477/hsbs.v1i1.83Transformasi Budaya Literasi di Dayah: Menggali Potensi Santri Aceh
https://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/article/view/285
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi budaya literasi di dayah (pesantren) di Aceh Timur, yang selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan agama Islam dan pembentukan karakter santri. Di tengah perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, pendidikan literasi yang mencakup literasi digital, literasi informasi, dan keterampilan berpikir kritis menjadi kebutuhan mendesak bagi santri agar mampu bersaing di era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen di beberapa dayah di Aceh Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun dayah telah memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan spiritualitas santri, penerapan literasi modern masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses terhadap sumber daya pembelajaran digital, rendahnya pengetahuan pengajar tentang literasi modern, pola pengajaran yang masih konvensional, dan keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten di bidang literasi digital. Meskipun demikian, terdapat potensi besar untuk mentransformasi budaya literasi di dayah melalui integrasi nilai-nilai agama dengan pendidikan literasi modern, pemanfaatan teknologi, pelatihan bagi pengajar, dan pengembangan kurikulum yang lebih komprehensif. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, dayah di Aceh Timur dapat berkembang menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya unggul dalam bidang agama, tetapi juga kompeten dalam keterampilan yang relevan di abad ke-21.</p>Muhammad Yusuf
Copyright (c) 2025 Jurnal Humaniora, Sosial Budaya dan Sejarah
2025-04-302025-04-30111419Budaya Media Sosial dan Dinamika Hubungan Profesional Guru di Era Digital
https://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/article/view/286
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika hubungan profesional guru Madrasah Aliyah (MA) di Aceh Timur dalam penggunaan media sosial. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggali bagaimana guru-guru memanfaatkan media sosial untuk pengembangan profesional, kolaborasi antar guru, serta tantangan yang dihadapi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dokumentasi, dan angket terbuka yang melibatkan guru yang aktif menggunakan platform seperti WhatsApp, Facebook, dan Telegram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas guru (85%) menggunakan media sosial untuk mengikuti pelatihan daring, 72% untuk berbagi informasi pendidikan, dan 61% untuk mencari materi ajar terbaru. Kolaborasi antar guru juga terwujud melalui penyusunan soal ujian bersama dan diskusi pedagogis. Namun, tantangan seperti gangguan privasi, overload informasi, kesenjangan literasi digital, dan konflik pendapat di grup media sosial ditemukan. Hasil angket mengungkapkan bahwa 90% guru merasa media sosial memperluas jejaring profesional mereka, sementara 76% guru menginginkan pelatihan etika penggunaan media sosial. Secara keseluruhan, meskipun media sosial memberikan banyak manfaat bagi pengembangan profesional dan kolaborasi antar guru, tantangan yang ada perlu diatasi agar potensi media sosial dapat dimaksimalkan secara optimal.</p>Jamali
Copyright (c) 2025 Jurnal Humaniora, Sosial Budaya dan Sejarah
2025-04-302025-04-30112025Antara Like dan Luka: Media Sosial sebagai Pemicu Cyberbullying di Madrasah
https://journal.ypmma.org/index.php/hsbs/article/view/287
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk dan faktor penyebab cyberbullying di kalangan siswa madrasah di Aceh Timur, serta mengetahui peran guru dan madrasah dalam mencegah perundungan digital tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus di dua madrasah: MAN 2 Aceh Timur dan MTsS Kampung Beusa. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan 10 guru dan 10 siswa, observasi langsung, serta dokumentasi kebijakan terkait penggunaan teknologi dan media sosial di madrasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghinaan melalui media sosial adalah bentuk cyberbullying yang paling banyak terjadi (35%), diikuti dengan penyebaran foto/video pribadi tanpa izin (25%), pelecehan di grup media sosial (20%), dan ancaman melalui pesan pribadi (15%). Rendahnya literasi digital siswa menjadi faktor utama penyebab cyberbullying, yang diungkapkan oleh 60% responden, diikuti dengan konflik pribadi antar siswa (40%) dan kurangnya pengawasan orang tua (30%). Peran guru dan madrasah dalam pencegahan cyberbullying sudah mulai dilakukan melalui pelatihan literasi digital dan pembatasan akses media sosial, namun masih membutuhkan peningkatan, terutama dalam kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.</p>Ilyas
Copyright (c) 2025 Jurnal Humaniora, Sosial Budaya dan Sejarah
2025-04-302025-04-30112631